Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan

Perbandingan Fregat Asia: Jinnah vs Merah Putih

Januari 09, 2026 Add Comment

Fregat modern menjadi tulang punggung armada laut negara-negara Asia. Pakistan dan Indonesia sama-sama menaruh perhatian serius pada pembangunan fregat kelas baru, masing-masing dengan visi kedaulatan maritim yang berbeda.

Pakistan menghadirkan Jinnah-class frigate, frigat multi-peran pertama yang sepenuhnya dirancang dan dibangun secara lokal oleh negara tersebut. Kapal ini dinamai untuk menghormati Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan.

Proyek Jinnah-class resmi dimulai dengan kontrak yang ditandatangani pada 3 November 2025 antara Pakistan Navy dan Karachi Shipyard & Engineering Works (KSEW). Fregat pertama diperkirakan masuk armada pada 2028.

Desain Jinnah-class menekankan pada kemampuan multi-peran, mulai dari pengawalan konvoi, anti-kapal permukaan, anti-kapal selam, hingga pertahanan udara jarak menengah. Hal ini menegaskan ambisi Pakistan untuk memiliki fregat yang fleksibel di Samudra Hindia.

Sementara itu, Indonesia mengembangkan Fregat kelas Balaputradewa, sebelumnya dikenal sebagai Fregat Merah Putih, yang dibangun oleh PAL Indonesia dengan lisensi desain dari Denmark, yakni Iver Huitfeldt class atau Arrowhead 140 / Tipe 31.

Proses lisensi dan adaptasi desain oleh Indonesia dimulai sejak September 2021, menandai langkah strategis TNI AL untuk memperkuat kemampuan pertahanan laut regional dengan teknologi modern dan terbukti.

Dari segi desain, Jinnah-class merupakan produk lokal Pakistan dengan semua sistem dirancang di dalam negeri. Sebaliknya, Balaputradewa mengadopsi desain yang sudah teruji dari Eropa, kemudian disesuaikan untuk kebutuhan operasi Indonesia.

Dalam hal tonase dan dimensi, Jinnah-class diperkirakan memiliki panjang dan kapasitas menengah, cukup untuk misi anti-kapal permukaan dan pertahanan udara. Balaputradewa memanfaatkan lambung Arrowhead 140 yang terkenal stabil, modular, dan dapat menampung berbagai sensor serta persenjataan modern.

Persenjataan Jinnah-class belum dipublikasikan sepenuhnya, tetapi fokusnya adalah fleksibilitas multi-peran, termasuk rudal anti-kapal, meriam utama kaliber sedang, dan sistem pertahanan udara menengah.

Fregat Merah Putih/Balaputradewa memiliki modul senjata yang bisa dikustomisasi: meriam utama 127 mm, peluncur rudal anti-kapal, sistem pertahanan udara jarak menengah, serta kemampuan anti-kapal selam. Fleksibilitas ini menjadi keunggulan desain Arrowhead 140.

Dari sisi produksi, Jinnah-class menjadi simbol kemandirian industri pertahanan Pakistan, menandai transisi dari ketergantungan impor ke pengembangan teknologi lokal.

Sebaliknya, Balaputradewa mengandalkan kombinasi transfer teknologi dan kemampuan PAL Indonesia, yang memungkinkan pembangunan frigat kelas dunia sambil memperkuat ekosistem industri maritim domestik.

Dalam konteks geopolitik, Jinnah-class menekankan strategi Pakistan di Samudra Hindia dan Laut Arab, sedangkan Balaputradewa memperkuat pengawasan wilayah perairan Indonesia yang luas, termasuk Selat Malaka dan Laut Sulawesi.

Dari perspektif modularitas, Balaputradewa memiliki sistem yang lebih mudah diupgrade di masa depan karena basis Arrowhead 140 sudah mengintegrasikan standar NATO. Jinnah-class akan bergantung pada pengembangan lokal Pakistan sendiri untuk upgrade.

Kemampuan elektronik dan sensor menjadi pembeda lain. Balaputradewa sudah dirancang untuk interoperabilitas dengan sistem sensor modern dari berbagai negara, sedangkan Jinnah-class kemungkinan menggunakan kombinasi radar lokal dan teknologi impor tertentu.

Dari sudut estetika dan kapal perang modern, Balaputradewa menampilkan garis lambung stealth yang menurunkan radar cross section. Jinnah-class, meski fokus pada fungsi, kemungkinan juga mengadopsi elemen stealth, tetapi lebih menonjolkan daya tahan dan kemampuan multi-peran.

Kecepatan operasional dan daya jelajah juga menjadi faktor kunci. Balaputradewa mampu menempuh jarak jauh dengan efisiensi bahan bakar tinggi, ideal untuk patroli maritim di wilayah laut luas Indonesia. Jinnah-class diproyeksikan cocok untuk operasi regional di Samudra Hindia.

Dari sisi simbolik, Jinnah-class mempertegas identitas nasional Pakistan dalam pertahanan laut. Balaputradewa, atau Fregat Merah Putih, menjadi lambang modernisasi armada TNI AL sekaligus penguatan industri maritim domestik.

Kedua fregat ini, meski berbeda filosofi pembangunan, menunjukkan tren Asia Tenggara dan Asia Selatan dalam memperkuat armada laut dengan kombinasi teknologi lokal dan transfer teknologi.

Singkatnya, duel antara Jinnah-class dan Fregat Merah Putih/Balaputradewa adalah perwujudan strategi pertahanan maritim dua negara yang berbeda: Pakistan mengutamakan kemandirian desain, sedangkan Indonesia mengutamakan adaptasi desain global dengan fleksibilitas dan modularitas tinggi.

Bos JD.com Ditahan Sebentar di AS, karena..

September 03, 2018 Add Comment
ilustrasi
SITIOTIO ONLINE -- Berita penangkapan pendiri JD.com Richard Liu Qiangdong di Amerika Serikat (AS) sangat mengejutkan. Pasalnya, Liu selama ini adalah sosok yang banyak dikagumi.

Liu dikenal sebagai konglomerat sukses yang membangun JD.com menjadi e-commerce kedua terbesar di China. Di luar kampung halamannya, Liu memang relatif belum dikenal.

Sejumlah langkah investasi terbaru yang dilakukannya di Asia Tenggara dan rencana perluasan ke Eropa, mengantarkan pria 43 tahun ini tampil di ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss tahun ini.

Kemunculannya di pertemuan ekonomi tahunan berskala global tersebut perlahan membuat namanya dikenal di luar China. Dalam salah satu sesi WEF, Liu menjadi pembicara dan duduk bersama para petinggi berpengaruh lainnya seperti CEO Adidas Group Kasper Rorsted dan Chief Wal-Mart AS Greg Foran.

Seperti dikutip detikINET dari South China Morning Post, di panggung ini, Liu secara singkat bercerita mengenai kisah hidupnya dan saat dirinya memulai JD.com.

Lika-Liku Bos JD yang Ditangkap di AS Foto: South China Morning Post

Si Anak Miskin

"Alasan pertama saya mendirikan bisnis ini adalah, saya mencari uang untuk nenek saya," Liu memulai. "Saat itu, dia sakit keras dan butuh biaya berobat, namun kami tidak punya uang," sambungnya.

Lahir dari keluarga miskin di utara provinsi Jiangsu, Liu memutar otak. Berulang kali mencoba dan gagal, Liu tak menyerah.

Dia memulai bisnis dengan membuka sebuah toko yang menjual komponen komputer di Beijing. Namun dia harus menutupnya pada 2003 setelah sindrom pernafasan akut melanda China. Pasalnya, kondisi ini menyebabkan orang-orang, tak mau keluar rumah karena takut terkena penyakit mematikan.

Pada suatu titik, hal ini membuatnya terpikir memindahkan bisnisnya secara online. Dari sana, dia merintis bisnis e-commerce JD.com.

Kegigihannya mengantarnya sukses membangun JD.com menjadi sebuah perusahaan dengan valuasi pasar sekitar USD 67 miliar.

Lika-Liku Bos JD yang Ditangkap di AS Foto: South China Morning Post

Simak juga video 'Pendiri JD.com Ditangkap atas Kejahatan Seks di Amerika Serikat':

Asal Usul Nama JD

Di panggung WEF pula, terungkap asal usul nama JD. Menanggapi pertanyaan ini, Liu sempat tersenyum sebelum menjawabnya.

"Saya harap istri saya tidak di sini untuk mendengar jawaban saya," sebutnya.

Rupanya, JD merupakan kombinasi dari huruf pertama nama cinta pertamanya, 'Jing' dan panggilan kesayangan Liu, 'Dong'. Istri Liu, Zhang Zetian (24 tahun) yang hadir di acara tersebut, tampak tersenyum simpul di tengah-tengah audience yang sontak tertawa mendengar jawaban Liu.

Setelah sedikit intermezo yang menghibur tersebut, Liu memaparkan sejumlah jurus JD.com di pasar e-commerce. Langkah pertama mencapai ambisi JD secara global, sebut Liu, adalah menghadirkan brand asing populer ke China.

Dengan demikian, konsumen bisa membeli apa yang mereka inginkan tanpa perlu ke luar negeri. Langkah kedua, membawa brand premium China ke pasar luar negeri.

"Saya yakin dalam 10 tahun mendatang, berbagai brand China akan ada di mana-mana di pasar global," yakin Liu.

Saat ini, JD.com mempekerjakan sekitar 162.000 pekerja dan mulai berinvestasi di berbagai negara, sebagai bagian dari rencana ekspansinya di luar China.

Tak hanya itu, nama Liu bersanding dengan miliuner asal China lainnya seperti CEO Alibaba Group Jack Ma, bos Tencent Holdings Ma Huateng dan CEO Baidu Robin Li Yanhong.

Lika-Liku Bos JD yang Ditangkap di AS Foto: REUTERS/Bobby Yip/File Photo

Ditangkap di AS

Liu ditangkap di AS atas dugaan kejahatan seksual. Dia ditangkap pada Jumat (31/8) malam waktu setempat dan dibebaskan pada Sabtu (1/9) sore waktu setempat.

Kepolisian Minneapolis, kota terbesar di Minnesota, menyebut penyelidikan terhadap Liu masih berlangsung. Namun mereka enggan mengonfirmasi soal penangkapan maupun tuduhan yang menjerat Liu.

"Dia ditangkap pada Jumat (31/8) malam dan dibebaskan pada Sabtu (1/9) sore waktu setempat. Dia dibebaskan meski ada laporan resmi," sebut Petugas Informasi Publik pada Kepolisian Minneapolis, John Elder, kepada AFP.

Di negara bagian Minnesota, tindakan kriminal kejahatan seksual mengarah pada spektrum luas untuk aktivitas seksual non-konsensual.

Dalam pernyataan terpisah via Weibo, pihak JD.com mengonfirmasi bahwa Liu sempat ditangkap atas tudingan palsu saat perjalanan bisnis.

Disebutkan dalam pernyataan itu bahwa otoritas setempat tidak menemukan bukti tindak kejahatan dan membebaskan Liu. (sumber)

Dicoba Langsung Jajaran Direktur, Ehang Sudah Siap Bawa Penumpang

Mei 29, 2018 Add Comment
SITIOTIO ONLINE -- Dua tahun lalu, perusahaan pembuat drone asal Tiongkok, Ehang hadir di CES dan berjanji membuat drone yang bisa membawa penumpang.

Ketika itu, banyak orang di dunia teknologi yang skeptis. Namun, kini, Ehang menampilkan video dari penerbangan pengujian drone miliknya di Tiongkok.

Teknisi Ehang menguji drone helikopter bernama Ehang 184 dengan berbagai tes. Mereka melakukan lebih dari 1.000 tes penerbangan dengan penumpang manusia, seperti terbang vertikal setinggal 300 meter, tes membawa beban seberat lebih dari 230 kilogram, pengujian penerbangan menempuh jarak 15 kilometer dan pengujian kecepatan maksimal yang mencapai 130 kilometer per jam.

Menurut laporan The Verge, pengujian Ehang 184 dilakukan dalam berbagai cuaca, termasuk panas terik, kabut tebal dan saat malam. Tampaknya, Ehang telah mendengar skeptisme banyak orang dan mencoba untuk membuktikan keseriusan mereka.

"Apa yang kami lakukan bukanlah olahraga ekstrem, jadi keselamatan penumpang selalu menjadi prioritas utama," kata pendiri dan CEO Ehang, Huazhi Hu dalam pernyataan resmi.

"Sekarang kami telah sukses menguji Ehang 184, saya tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi pada mobilitas di masa depan." (sumber)


Menkes: Investasi di Sektor Kesehatan Meningkat

Februari 14, 2018
ilustrasi
Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menyampaikan bahwa sektor kesehatan Indonesia sudah mulai dilirik dunia, di mana investasi di sektor pelayanan kesehatan meningkat tinggi.

"Investasi di sektor kesehatan melonjak tajam," kata Menkes Nila F. Moeloek pada acara "breakfast meeting" yang dihadiri oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI dan 34 Kepala Perwakilan RI di Jakarta, Selasa (13/2/2018).

Dalam acara tersebut, Menteri Kesehatan RI memaparkan pertumbuhan investasi di sektor kesehatan pasca pengesahan Instruksi Presiden No.6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, total nilai investasi di sektor kesehatan melonjak dua kali lipat sejak pengesahan instruksi presiden itu.

"Total nilai investasi di industri farmasi berada di angka Rp2,6 triliun pada periode 2014-2015. Namun, sejak disahkannya Inpres Nomor 6 tahun 2016, angka investasi di sektor ini melonjak ke angka Rp5,38 triliun pada periode 2016-2017," ujar Nila.

Sementara itu, peningkatan nilai investasi di industri alat kesehatan naik lebih tinggi lagi, yakni dari Rp718 miliar pada periode 2014-2015 menjadi Rp3,91 triliun pada periode 2016-2017.

Menurut Menkes, para kepala Perwakilan RI memiliki peran yang besar untuk menjaga momentum positif investasi di sektor kesehatan Indonesia.

Untuk itu, Menteri Kesehatan RI menyampaikan beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh para Kepala Perwakilan di luar negeri untuk terus mengawal tren positif di sektor kesehatan, antara lain dengan mencari peluang kerja bagi perawat asal Indonesia, peningkatan ekspor alat-alat kesehatan, peningkatan investasi asing di sektor kesehatan, serta pembentukan kerja sama sister hospital antara rumah sakit di Indonesia dengan rumah sakit di luar negeri.

Pada kesempatan itu, Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir menyampaikan bahwa Indonesia sebenarnya kebanjiran tawaran kerja sama di bidang industri kesehatan.

"Seperti disampaikan oleh beberapa duta besar kita, beberapa potensi kerja sama yang sudah kita terima sejauh ini, antara lain kerja sama pengembangan energi nuklir untuk kesehatan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tawaran pengembangan insulin dan 'digital health' dengan Denmark, tawaran kerja sama pengembangan 'mobile healthcare' untuk wilayah terpencil dengan Belanda, serta pengembangan industri biofarma dengan Perancis," ujar Wamenlu Fachir.

Untuk itu, Wamenlu RI menegaskan pentingnya agar Kementerian Luar Negeri bersama-sama dengan Kementerian Kesehatan menyusun program kerja untuk segera merealisasikan langkah-langkah diplomasi kesehatan Indonesia demi peningkatan kerja sama internasional di sektor kesehatan.

Menkes dan Wamenlu sepakat bahwa Kementerian Luar Negeri memegang peranan penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi industri kesehatan asing, namun juga menjadi pemain besar di tingkat dunia, baik sebagai perumus peraturan internasional di sektor kesehatan maupun sebagai pemain di pasar global.

Indonesia selalu terlibat aktif dalam perumusan peraturan kesehatan di forum internasional. Indonesia merupakan anggota Badan Eksekutif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2018-2021, anggota "Troika Steering Group Global Health Security Agenda", dan anggota Kelompok Kerja Sektor Kesehatan G-20. (sumber)

Darmin Nasution Ingin Dorong Pertumbuhan Ekonomi dengan Ekspor

Februari 14, 2018
Pemerintah terus memanfaatkan momentum dari pulihnya perekonomian global. Berbagai hal pun dilakukan, di antaranya memacu investasi dan ekspor sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menekankan pentingnya dua indikator tersebut karena akan berpengaruh besar terhadap peningkatan perekonomian nasional.

"Negara sekitar kita yang memang market-nya lebih dari kita pasti akan melewati pertumbuhan ekonomi kita segera. Padahal sebetulnya beberapa tahun lalu kita lebih tinggi pertumbuhannya," kata Darmin dalam sebuah diskusi di kantornya, Jakarta, Rabu (14/2/2018).

Darmin menambahkan, untuk mendukung investasi, Jokowi menekankan adanya pembenahan perizinan usaha. Sebab, ada banyak permasalahan dari perizinan tersebut yang sifatnya teknis dan selama ini hal tersebut dirasakan oleh para investor.

"Kami di kantor Kemenko sudah memasuki bulan kelima dalam mencoba membedah dan menyelesaikan persoalan ini, setelah 16 paket ada banyak hal yang sifatnya teknis," kata dia.

Selain itu, Jokowi menginginkan untuk mengidentifikasi dan membuka pasar ekspor baru serta mempercepat penyelesaian perjanjian regional Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan Free Trade Agreement (Perjanjian Perdagangan Bebas/FTA).

Kemudian, pemerintah belakangan sudah fokus terhadap pengembangan infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, kereta api, bahkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk jaringan broadband demi menunjang ekonomi digital.

"Ekonomi digital yang kita sebut palapa ring yang awal tahun depan itu kita akan meng-cover seluruh nusantara dengan kapasitas dan kecepatan apakah itu internet, produk digital lainnya dengan kapasitas kecepatan yang lebih tinggi," tuturnya.

Namun, karena Indonesia dinilai sudah melalui itu, Jokowi menginginkan untuk memulai pembangunan infrastruktur lain, seperti membangun kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta ekonomi digital.

"Presiden ingatkan oke kita sudah lalui itu kita sudah masuk ke infrastruktur lain, apa yang harus kita perdalam? Itu mulai dari persoalan kapasitas SDM bahkan ekonomi digital itu sendiri," ucapnya.

Untuk itu, pemerintah membentuk dua program besar mengenai ekonomi karena memiliki bidang yang sangat luas. "Paling tidak ada dua area yang pasti kita hadapi dan kita harus mampu memasuki dan mengikuti iramanya," ujarnya. (sumber)