Fregat modern menjadi tulang punggung armada laut negara-negara Asia. Pakistan dan Indonesia sama-sama menaruh perhatian serius pada pembangunan fregat kelas baru, masing-masing dengan visi kedaulatan maritim yang berbeda.
Pakistan menghadirkan Jinnah-class frigate, frigat multi-peran pertama yang sepenuhnya dirancang dan dibangun secara lokal oleh negara tersebut. Kapal ini dinamai untuk menghormati Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan.
Proyek Jinnah-class resmi dimulai dengan kontrak yang ditandatangani pada 3 November 2025 antara Pakistan Navy dan Karachi Shipyard & Engineering Works (KSEW). Fregat pertama diperkirakan masuk armada pada 2028.
Desain Jinnah-class menekankan pada kemampuan multi-peran, mulai dari pengawalan konvoi, anti-kapal permukaan, anti-kapal selam, hingga pertahanan udara jarak menengah. Hal ini menegaskan ambisi Pakistan untuk memiliki fregat yang fleksibel di Samudra Hindia.
Sementara itu, Indonesia mengembangkan Fregat kelas Balaputradewa, sebelumnya dikenal sebagai Fregat Merah Putih, yang dibangun oleh PAL Indonesia dengan lisensi desain dari Denmark, yakni Iver Huitfeldt class atau Arrowhead 140 / Tipe 31.
Proses lisensi dan adaptasi desain oleh Indonesia dimulai sejak September 2021, menandai langkah strategis TNI AL untuk memperkuat kemampuan pertahanan laut regional dengan teknologi modern dan terbukti.
Dari segi desain, Jinnah-class merupakan produk lokal Pakistan dengan semua sistem dirancang di dalam negeri. Sebaliknya, Balaputradewa mengadopsi desain yang sudah teruji dari Eropa, kemudian disesuaikan untuk kebutuhan operasi Indonesia.
Dalam hal tonase dan dimensi, Jinnah-class diperkirakan memiliki panjang dan kapasitas menengah, cukup untuk misi anti-kapal permukaan dan pertahanan udara. Balaputradewa memanfaatkan lambung Arrowhead 140 yang terkenal stabil, modular, dan dapat menampung berbagai sensor serta persenjataan modern.
Persenjataan Jinnah-class belum dipublikasikan sepenuhnya, tetapi fokusnya adalah fleksibilitas multi-peran, termasuk rudal anti-kapal, meriam utama kaliber sedang, dan sistem pertahanan udara menengah.
Fregat Merah Putih/Balaputradewa memiliki modul senjata yang bisa dikustomisasi: meriam utama 127 mm, peluncur rudal anti-kapal, sistem pertahanan udara jarak menengah, serta kemampuan anti-kapal selam. Fleksibilitas ini menjadi keunggulan desain Arrowhead 140.
Dari sisi produksi, Jinnah-class menjadi simbol kemandirian industri pertahanan Pakistan, menandai transisi dari ketergantungan impor ke pengembangan teknologi lokal.
Sebaliknya, Balaputradewa mengandalkan kombinasi transfer teknologi dan kemampuan PAL Indonesia, yang memungkinkan pembangunan frigat kelas dunia sambil memperkuat ekosistem industri maritim domestik.
Dalam konteks geopolitik, Jinnah-class menekankan strategi Pakistan di Samudra Hindia dan Laut Arab, sedangkan Balaputradewa memperkuat pengawasan wilayah perairan Indonesia yang luas, termasuk Selat Malaka dan Laut Sulawesi.
Dari perspektif modularitas, Balaputradewa memiliki sistem yang lebih mudah diupgrade di masa depan karena basis Arrowhead 140 sudah mengintegrasikan standar NATO. Jinnah-class akan bergantung pada pengembangan lokal Pakistan sendiri untuk upgrade.
Kemampuan elektronik dan sensor menjadi pembeda lain. Balaputradewa sudah dirancang untuk interoperabilitas dengan sistem sensor modern dari berbagai negara, sedangkan Jinnah-class kemungkinan menggunakan kombinasi radar lokal dan teknologi impor tertentu.
Dari sudut estetika dan kapal perang modern, Balaputradewa menampilkan garis lambung stealth yang menurunkan radar cross section. Jinnah-class, meski fokus pada fungsi, kemungkinan juga mengadopsi elemen stealth, tetapi lebih menonjolkan daya tahan dan kemampuan multi-peran.
Kecepatan operasional dan daya jelajah juga menjadi faktor kunci. Balaputradewa mampu menempuh jarak jauh dengan efisiensi bahan bakar tinggi, ideal untuk patroli maritim di wilayah laut luas Indonesia. Jinnah-class diproyeksikan cocok untuk operasi regional di Samudra Hindia.
Dari sisi simbolik, Jinnah-class mempertegas identitas nasional Pakistan dalam pertahanan laut. Balaputradewa, atau Fregat Merah Putih, menjadi lambang modernisasi armada TNI AL sekaligus penguatan industri maritim domestik.
Kedua fregat ini, meski berbeda filosofi pembangunan, menunjukkan tren Asia Tenggara dan Asia Selatan dalam memperkuat armada laut dengan kombinasi teknologi lokal dan transfer teknologi.
Singkatnya, duel antara Jinnah-class dan Fregat Merah Putih/Balaputradewa adalah perwujudan strategi pertahanan maritim dua negara yang berbeda: Pakistan mengutamakan kemandirian desain, sedangkan Indonesia mengutamakan adaptasi desain global dengan fleksibilitas dan modularitas tinggi.