Dalam beberapa minggu terakhir, muncul gelombang organisasi baru yang menyatakan dukungan terhadap dialog Selatan di Yaman. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan publik tentang motif dan tujuan sebenarnya dari pembentukan kelompok-kelompok tersebut, terutama di tengah dominasi STC di wilayah Selatan.
Salah satu organisasi yang mencuat adalah Konferensi Nasional Socotra, yang dengan tegas menyambut undangan Arab Saudi untuk pertemuan dialog selatan. Pernyataan resmi mereka menegaskan dukungan terhadap keputusan pemerintah Yaman menarik pasukan UAE dan menegaskan kedaulatan negara atas keamanan dan kekuatan militer.
Selain Socotra, muncul juga Inisiatif Nasional Selatan, yang menggarisbawahi pentingnya dialog selatan-selatan yang inklusif, melibatkan seluruh komponen politik dan masyarakat Selatan. Mereka menekankan bahwa forum ini adalah kesempatan untuk menemukan solusi adil dan berkelanjutan bagi permasalahan sejarah dan politik Selatan.
Motivasi di balik munculnya organisasi-organisasi baru ini tampaknya tidak hanya untuk berpartisipasi dalam dialog, tetapi juga untuk mengisi kemungkinan kekosongan kekuasaan jika STC suatu saat dinyatakan sebagai organisasi terlarang atau dibatasi perannya oleh PLC.
Pernyataan Inisiatif Nasional Selatan menegaskan bahwa keberhasilan dialog hanya dapat dicapai melalui partisipasi semua pihak, tanpa mengecualikan komponen manapun. Hal ini menunjukkan kesadaran mereka akan risiko monopoli kekuasaan oleh satu faksi tunggal.
Arab Saudi, sebagai tuan rumah dialog, dipandang memiliki peran strategis dalam mendorong keterlibatan kelompok baru. Dukungan Riyadh dianggap memberi legitimasi politik terhadap eksistensi organisasi-organisasi ini di kancah politik Selatan.
Munculnya kelompok-kelompok baru juga mencerminkan dinamika persaingan internal di Selatan. Mereka berupaya menunjukkan bahwa alternatif terhadap STC bukan hanya realistis, tetapi juga bisa mewakili aspirasi masyarakat Selatan yang lebih luas.
Konferensi Socotra menekankan pentingnya menjaga keamanan pulau-pulau dan wilayah strategis, termasuk pelabuhan dan akses laut, dari potensi gangguan atau kekacauan. Pernyataan ini menunjukkan kesiapan mereka untuk mengambil peran praktis jika diperlukan.
Inisiatif Nasional Selatan menegaskan bahwa solusi yang sah dan berkelanjutan harus lahir dari kesepakatan semua faksi, bukan keputusan sepihak. Ini menjadi pesan langsung kepada STC bahwa dialog tidak boleh didominasi oleh satu kelompok saja.
Organisasi baru ini juga berupaya memposisikan diri sebagai penjaga kepentingan rakyat Selatan, menekankan hak-hak politik dan aspirasi sosial yang selama ini kerap dikalahkan oleh dominasi STC.
Publik dan pengamat politik menilai, kemunculan organisasi-organisasi ini meningkatkan tekanan pada STC untuk bersikap kooperatif dalam pertemuan Riyadh mendatang. Mereka tidak bisa lagi mengabaikan kelompok lain tanpa konsekuensi politik.
Jika STC menolak partisipasi organisasi-organisasi ini dalam dialog, risiko konflik politik meningkat. Isu eksklusi bisa memicu ketegangan baru di Aden dan provinsi Selatan lainnya.
Sebagai strategi, organisasi baru ini sudah melakukan komunikasi awal dengan berbagai tokoh dan faksi lokal, membangun jaringan dan dukungan sebelum pertemuan resmi dimulai. Hal ini meningkatkan peluang mereka untuk diakui dalam proses negosiasi.
Arab Saudi diharapkan memainkan peran mediasi yang kuat, memastikan dialog berlangsung inklusif dan mengurangi kemungkinan satu pihak mendominasi hasil pertemuan.
Beberapa analis politik menilai bahwa jika STC tetap menolak, organisasi-organisasi baru dapat menarik simpati publik dan dukungan internasional, sehingga memperkuat posisi tawar mereka di kancah politik.
Munculnya inisiatif ini juga menjadi sinyal bahwa masyarakat dan faksi lain di Selatan tidak sepenuhnya pasif. Mereka siap mengambil peran dalam pengambilan keputusan jika STC gagal mewakili seluruh kepentingan.
Inisiatif Nasional Selatan menegaskan bahwa dialog harus menjadi forum nyata, bukan sekadar simbolik, dengan jaminan partisipasi penuh bagi semua pihak. Ini menjadi landasan legitimasi politik mereka di masa depan.
Keberadaan organisasi baru juga menandai bahwa politik Selatan semakin plural. Tidak ada satu faksi tunggal yang bisa mendominasi, sehingga dialog menjadi kebutuhan mutlak untuk menjaga stabilitas.
Jika proses Riyadh berjalan efektif, faksi non-STC berpotensi memperoleh posisi formal dalam pemerintahan lokal, misalnya di jajaran gubernur Aden, memperluas representasi politik di wilayah Selatan.
Akhirnya, kemunculan organisasi-organisasi ini menunjukkan bahwa dialog Selatan bukan hanya sekadar pertemuan formal, tetapi juga peluang strategis untuk membangun kesetaraan politik, legitimasi, dan stabilitas jangka panjang bagi masyarakat Selatan.